Bagai ombak, aku hanyalah setitik pasir yang hanyut akan derasnya air. Ke hulu aku ke hulu, ke hilirpun aku ikut ke hilir. Mengerti akan tak adanya pendirianku untuk hidup. Namun, kembali lagi untuk sadar bahwa aku hanyalah setitik pasir yang memang ditakdirkan untuk sadar bahwa ombak akan selalu menentukan kemana aku akan pergi. Andai ombak mampu aku kendalikan, akan selalu aku arahkan ia ke arah dimana matahari terbenam, akan aku rasakan segala perhatian tertuju ke arahku meskipun aku tahu bahwa perhatian sebenarnya tertuju akan indahnya sang mentari. Sayang, mentari tidak benar-benar tenggelam di lautan luas, andai saja benar ingin rasanya aku rela untuk hanyut dan terbawa arus ke tengah samudera. Bagai malam, aku hanya langit gelap yang kosong tanpa keindahan. Ingin rasanya aku menjadi bulan, selalu dicari dikala kegelapan mulai mengetuk hari. Jangankan untuk menjadi bulan, berkilau kecil bagai bintang saja aku tak bisa. Sayang, bulan nampak asing tanpa bintang, dan bintang namp...