Bagai ombak, aku hanyalah setitik pasir yang hanyut akan derasnya air. Ke hulu aku ke hulu, ke hilirpun aku ikut ke hilir. Mengerti akan tak adanya pendirianku untuk hidup. Namun, kembali lagi untuk sadar bahwa aku hanyalah setitik pasir yang memang ditakdirkan untuk sadar bahwa ombak akan selalu menentukan kemana aku akan pergi. Andai ombak mampu aku kendalikan, akan selalu aku arahkan ia ke arah dimana matahari terbenam, akan aku rasakan segala perhatian tertuju ke arahku meskipun aku tahu bahwa perhatian sebenarnya tertuju akan indahnya sang mentari. Sayang, mentari tidak benar-benar tenggelam di lautan luas, andai saja benar ingin rasanya aku rela untuk hanyut dan terbawa arus ke tengah samudera.
Bagai malam, aku hanya langit gelap yang kosong tanpa keindahan. Ingin rasanya aku menjadi bulan, selalu dicari dikala kegelapan mulai mengetuk hari. Jangankan untuk menjadi bulan, berkilau kecil bagai bintang saja aku tak bisa. Sayang, bulan nampak asing tanpa bintang, dan bintang nampak percuma tanpa bulan. Begitupun langit malam, aku. Hanya menjadi sosok latar yang kosong dan nampak tak bernyawa oleh hiruk pikuk dunia malam.
Bagai siang, aku hanya debu. Terbawa terbang oleh kencangnya angin, dihindari manusia karena aku telah mengusik udara segarnya. Akulah yang menyebabkan segalanya menjadi penyakit. Andai aku dapat menjadi udara, ditunggu dan semuanya tergantung padaku. Sayang, udara juga seringkali dihindari manusia. Atau, aku ingin menjadi sosok daun, gemerisik dan tetesan embunnya selalu menggoda siapa saja yang merindukannya. Sayang, daun akan kering dan hancur oleh panas dan angin.
Ketika aku pikir semua pengandaianku berujung sama dengan kenyataannya, lantas harus sebagai apakah aku agar semuanya nampak indah selamanya?
Jawabannya hanya aku. Jika harus sakit untuk sembuh, harus bodoh untuk pintar, harus nol untuk sempurna, maka aku harus jadi aku. Sadar bahwa tidak akan ada pelangi tanpa adanya hujan.
Cukup mengerti bahwa inilah dunia, manis pahitnya harus ada. Aku ditunjuk Tuhan untuk menjadi salah satu pemain. Berlakon yang sebenarnya, aku harus menjadi matahari untuk lautan, menjadi ombak untuk sang pasir, menjadi bulan untuk sang bintang, menjadi bintang untuk rembulan, menjadi langit malam demi indahnya bulan dan bintang, menjadi sosok siang untuk harapan baru semua makhluk, menjadi angin untuk semua hidup, menjadi daun untuk sang embun, dan menjadi pelangi setelah hujan membasahi.
Sekarang, biar aku songsong hidupku. Biar aku ubah diriku menjadi segala sosok yang indah dimata dunia. Akan aku biarkan longlongan anjing menjadi musik di malam gelapku. Lalu aku biarkan segala asam membalut lukaku. Aku lepaskan segala kegagalanku dan menyatukannya menjadi satu buku dan guru terbaikku. Akan aku pajang bingkai berisikan senyum dan keringat orang-orang tersayangku. Nanti, dunia akan melihat ke arahku dan berkata “Hey! Kamu berhasil mengalahkanku!”.
Biarkan aku berbohong dengan senyumku. Biarkan aku menutupi segala air mata dan kesedihan dengan senyum. Aku telah hidup hampir 17 tahun, dan aku mengerti bahwa tidak semua manusia bertanya ‘kenapa?’ karena peduli, sebagian besar darinya bertanya hanya karena ingin tahu dan berlakon manis didepanku. Sebagian dari mereka memelukku erat bukan karena ikut merasakan, namun hanya menusukkan pisaunya makin dalam. Ya, manusia.. tak heran jika aku iri pada binatang.
Aku harus tumbuh sebagai gadis cantik yang sadar bahwa diatas langit masih ada langit. Aku harus bisa melukiskan kebahagian meski kadang akupun sering bertanya “Kebahagiaanku, mana?”. Tuhan adil. Aku bisa ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Aku bahagia bahwa semesta mendukungku.
Kiranya akan adakah waktu untukku mendapatkan segala kebahagiaanku? Atau.. bolehkah aku berbalik kebelakang dan mengulangi semuanya, lagi? Barangkali akan aku perbaiki segala kesalahan yang sudah aku lakukan. Ah tidak. Cinderella tidak akan menjadi putri jika malam itu ia kembali dan mengambil sepatunya. Aku harus melangkah kedepan, aku bisa jadi segala yang aku mau. Dan mampu mengubah segala ‘andai’ menjadi ‘telah’.
Bagai malam, aku hanya langit gelap yang kosong tanpa keindahan. Ingin rasanya aku menjadi bulan, selalu dicari dikala kegelapan mulai mengetuk hari. Jangankan untuk menjadi bulan, berkilau kecil bagai bintang saja aku tak bisa. Sayang, bulan nampak asing tanpa bintang, dan bintang nampak percuma tanpa bulan. Begitupun langit malam, aku. Hanya menjadi sosok latar yang kosong dan nampak tak bernyawa oleh hiruk pikuk dunia malam.
Bagai siang, aku hanya debu. Terbawa terbang oleh kencangnya angin, dihindari manusia karena aku telah mengusik udara segarnya. Akulah yang menyebabkan segalanya menjadi penyakit. Andai aku dapat menjadi udara, ditunggu dan semuanya tergantung padaku. Sayang, udara juga seringkali dihindari manusia. Atau, aku ingin menjadi sosok daun, gemerisik dan tetesan embunnya selalu menggoda siapa saja yang merindukannya. Sayang, daun akan kering dan hancur oleh panas dan angin.
Ketika aku pikir semua pengandaianku berujung sama dengan kenyataannya, lantas harus sebagai apakah aku agar semuanya nampak indah selamanya?
Jawabannya hanya aku. Jika harus sakit untuk sembuh, harus bodoh untuk pintar, harus nol untuk sempurna, maka aku harus jadi aku. Sadar bahwa tidak akan ada pelangi tanpa adanya hujan.
Cukup mengerti bahwa inilah dunia, manis pahitnya harus ada. Aku ditunjuk Tuhan untuk menjadi salah satu pemain. Berlakon yang sebenarnya, aku harus menjadi matahari untuk lautan, menjadi ombak untuk sang pasir, menjadi bulan untuk sang bintang, menjadi bintang untuk rembulan, menjadi langit malam demi indahnya bulan dan bintang, menjadi sosok siang untuk harapan baru semua makhluk, menjadi angin untuk semua hidup, menjadi daun untuk sang embun, dan menjadi pelangi setelah hujan membasahi.
Sekarang, biar aku songsong hidupku. Biar aku ubah diriku menjadi segala sosok yang indah dimata dunia. Akan aku biarkan longlongan anjing menjadi musik di malam gelapku. Lalu aku biarkan segala asam membalut lukaku. Aku lepaskan segala kegagalanku dan menyatukannya menjadi satu buku dan guru terbaikku. Akan aku pajang bingkai berisikan senyum dan keringat orang-orang tersayangku. Nanti, dunia akan melihat ke arahku dan berkata “Hey! Kamu berhasil mengalahkanku!”.
Biarkan aku berbohong dengan senyumku. Biarkan aku menutupi segala air mata dan kesedihan dengan senyum. Aku telah hidup hampir 17 tahun, dan aku mengerti bahwa tidak semua manusia bertanya ‘kenapa?’ karena peduli, sebagian besar darinya bertanya hanya karena ingin tahu dan berlakon manis didepanku. Sebagian dari mereka memelukku erat bukan karena ikut merasakan, namun hanya menusukkan pisaunya makin dalam. Ya, manusia.. tak heran jika aku iri pada binatang.
Aku harus tumbuh sebagai gadis cantik yang sadar bahwa diatas langit masih ada langit. Aku harus bisa melukiskan kebahagian meski kadang akupun sering bertanya “Kebahagiaanku, mana?”. Tuhan adil. Aku bisa ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Aku bahagia bahwa semesta mendukungku.
Kiranya akan adakah waktu untukku mendapatkan segala kebahagiaanku? Atau.. bolehkah aku berbalik kebelakang dan mengulangi semuanya, lagi? Barangkali akan aku perbaiki segala kesalahan yang sudah aku lakukan. Ah tidak. Cinderella tidak akan menjadi putri jika malam itu ia kembali dan mengambil sepatunya. Aku harus melangkah kedepan, aku bisa jadi segala yang aku mau. Dan mampu mengubah segala ‘andai’ menjadi ‘telah’.
Comments
Post a Comment