Skip to main content

Bagai

Bagai ombak, aku hanyalah setitik pasir yang hanyut akan derasnya air. Ke hulu aku ke hulu, ke hilirpun aku ikut ke hilir. Mengerti akan tak adanya pendirianku untuk hidup. Namun, kembali lagi untuk sadar bahwa aku hanyalah setitik pasir yang memang ditakdirkan untuk sadar bahwa ombak akan selalu menentukan kemana aku akan pergi. Andai ombak mampu aku kendalikan, akan selalu aku arahkan ia ke arah dimana matahari terbenam, akan aku rasakan segala perhatian tertuju ke arahku meskipun aku tahu bahwa perhatian sebenarnya tertuju akan indahnya sang mentari. Sayang, mentari tidak benar-benar tenggelam di lautan luas, andai saja benar ingin rasanya aku rela untuk hanyut dan terbawa arus ke tengah samudera.
Bagai malam, aku hanya langit gelap yang kosong tanpa keindahan. Ingin rasanya aku menjadi bulan, selalu dicari dikala kegelapan mulai mengetuk hari. Jangankan untuk menjadi bulan, berkilau kecil bagai bintang saja aku tak bisa. Sayang, bulan nampak asing tanpa bintang, dan bintang nampak percuma tanpa bulan. Begitupun langit malam, aku. Hanya menjadi sosok latar yang kosong dan nampak tak bernyawa oleh hiruk pikuk dunia malam.
Bagai siang, aku hanya debu. Terbawa terbang oleh kencangnya angin, dihindari manusia karena aku telah mengusik udara segarnya. Akulah yang menyebabkan segalanya menjadi penyakit. Andai aku dapat menjadi udara, ditunggu dan semuanya tergantung padaku. Sayang, udara juga seringkali dihindari manusia. Atau, aku ingin menjadi sosok daun, gemerisik dan tetesan embunnya selalu menggoda siapa saja yang merindukannya. Sayang, daun akan kering dan hancur oleh panas dan angin.
Ketika aku pikir semua pengandaianku berujung sama dengan kenyataannya, lantas harus sebagai apakah aku agar semuanya nampak indah selamanya?
Jawabannya hanya aku. Jika harus sakit untuk sembuh, harus bodoh untuk pintar, harus nol untuk sempurna, maka aku harus jadi aku. Sadar bahwa tidak akan ada pelangi tanpa adanya hujan.
Cukup mengerti bahwa inilah dunia, manis pahitnya harus ada. Aku ditunjuk Tuhan untuk menjadi salah satu pemain. Berlakon yang sebenarnya, aku harus menjadi matahari untuk lautan, menjadi ombak untuk sang pasir, menjadi bulan untuk sang bintang, menjadi bintang untuk rembulan, menjadi langit malam demi indahnya bulan dan bintang, menjadi sosok siang untuk harapan baru semua makhluk, menjadi angin untuk semua hidup, menjadi daun untuk sang embun, dan menjadi pelangi setelah hujan membasahi.
Sekarang, biar aku songsong hidupku. Biar aku ubah diriku menjadi segala sosok yang indah dimata dunia. Akan aku biarkan longlongan anjing menjadi musik di malam gelapku. Lalu aku biarkan segala asam membalut lukaku. Aku lepaskan segala kegagalanku dan menyatukannya menjadi satu buku dan guru terbaikku. Akan aku pajang bingkai berisikan senyum dan keringat orang-orang tersayangku. Nanti, dunia akan melihat ke arahku dan berkata “Hey! Kamu berhasil mengalahkanku!”.
Biarkan aku berbohong dengan senyumku. Biarkan aku menutupi segala air mata dan kesedihan dengan senyum. Aku telah hidup hampir 17 tahun, dan aku mengerti bahwa tidak semua manusia bertanya ‘kenapa?’ karena peduli, sebagian besar darinya bertanya hanya karena ingin tahu dan berlakon manis didepanku. Sebagian dari mereka memelukku erat bukan karena ikut merasakan, namun hanya menusukkan pisaunya makin dalam. Ya, manusia.. tak heran jika aku iri pada binatang.
Aku harus tumbuh sebagai gadis cantik yang sadar bahwa diatas langit masih ada langit. Aku harus bisa melukiskan kebahagian meski kadang akupun sering bertanya “Kebahagiaanku, mana?”. Tuhan adil. Aku bisa ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Aku bahagia bahwa semesta mendukungku.
Kiranya akan adakah waktu untukku mendapatkan segala kebahagiaanku? Atau.. bolehkah aku berbalik kebelakang dan mengulangi semuanya, lagi? Barangkali akan aku perbaiki segala kesalahan yang sudah aku lakukan. Ah tidak. Cinderella tidak akan menjadi putri jika malam itu ia kembali dan mengambil sepatunya. Aku harus melangkah kedepan, aku bisa jadi segala yang aku mau. Dan mampu mengubah segala ‘andai’ menjadi ‘telah’.

Comments

Popular posts from this blog

Tidak Tergantung

Hai, Kamu yang aku pikir akan mengisi hati. Ah, malu. Aku sudah sesumbar ke yang Empunya kalau aku jadi perhatianmu. Aku, yang pipinya sudah memerah kala mereka menjadikan kita semoga. Aku, yang paling merasa dibutuhkanmu. Aku, yang paling merasa bisa menjerat. Aku, yang dengan angkuhnya merasa tak perlu akan kamu. Aku, yang ternyata jadi perasa sendirian. Hai, Kamu yang tahu masa lalu-ku. Ah, mari berpikir positif. Kamu, bukan tidak merasakan. Hanya saja, kamu tidak mau jadi seperti dia yang akhirnya meninggalkan, kan? Mari anggap saja demikian. Aku hanya berusaha menahan sakitnya lagi. Hai, Jika kamu membaca ini. Dalam diam. Dalam pikiranmu yang mungkin bergumam dalam hati, “Ah kasihan, ya.”. Aku sayang kamu. Lebih dari keangkuhanku selama ini. Hai, Kamu, yang selama ini ada di sampingku. Jadi temanku. Aku diam-diam menggantung bintang di antara aku dan kamu. Berharap suatu saat bintangnya jatuh. Hai, Kamu, yang sering ku dapati sedang menatapku sambil tersenyum. Aku ...

Menjadi

Dahulu, Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari rahim siapa aku dilahirkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Siapa ayahku, Siapa ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari keluarga seperti apa aku dibesarkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keluarga kaya raya yang mampu mewujudkan segalanya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kiranya keluargaku adalah mereka yang punya tahta Aku tidak pernah meminta kepadaNya Bagaimana rupa ayah, dan ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kesempurnaan dunia yang tiada batas Aku tidak pernah meminta kepadaNya Apakah ayah, dan ibuku adalah seorang idola Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keadaan keluargaku harus sejahtera Aku tidak pernah meminta kepadaNya Lahir dalam keadaan kaya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Memiliki segala kemewahan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dengan siapa aku dewasa Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kehidupan sempurna yang ada aku disana Aku tidak pernah meminta kepadaNya Seorang ibu ya...

Sudah

Aku menemukannya dalam gelap Berbisik seolah teriak "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Dilihatnya aku dalam terang Aku lihat tangannya yang melambai kian kencang "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Suaranya pelan-pelan kencang "Aaaah! Kau tak lihat aku, ya?!" Aku membeku Sesak rasanya Aku hela nafas panjang "Apa yang salah?", lirih terdengar. Heranku penuh Sesaknya semakin jadi Aku lihat dia menangis "Aku lelah jadi si salah! Aku lelah menjadi buruk! Biar aku ajarkan pada mereka bagaimana buruk seharusnya!", teriaknya dengan jelas. Aku mematung Sesaknya menyeruak kian banyak Pelan-pelan aku membungkuk Aku ulurkan tangan untuk meraih tangannya Dapat! "Sudah, ya. Diam saja. Tanpa ajarmu, mereka sudah buruk sebagaimana adanya. Peranku juga tak cukup baik hanya karena di sisi yang bagimu menarik. Kau tahu? terang tak melulu tentang senang.", aku lepas.