Skip to main content

Menjadi

Dahulu,
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Dari rahim siapa aku dilahirkan
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Siapa ayahku, Siapa ibuku
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Dari keluarga seperti apa aku dibesarkan
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Keluarga kaya raya yang mampu mewujudkan segalanya
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Kiranya keluargaku adalah mereka yang punya tahta
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Bagaimana rupa ayah, dan ibuku
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Kesempurnaan dunia yang tiada batas
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Apakah ayah, dan ibuku adalah seorang idola
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Keadaan keluargaku harus sejahtera
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Lahir dalam keadaan kaya
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Memiliki segala kemewahan
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Dengan siapa aku dewasa
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Kehidupan sempurna yang ada aku disana
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Seorang ibu yang berkarir cemerlang
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Seorang ayah dengan gedung-gedungnya
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Kasur dan selimut yang terbuat dari bulu terlembut
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Tidak boleh ada luka
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Hujani kebun saya dengan kebahagiaan
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Jaga aku selamanya
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Jangan biarkan kebunku mati
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Tidak akan ada air mata
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Mobil mewah dengan plat nama
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Aku harus dilahirkan di keluarga ternama
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Siapa-siapa saja yang akan jadi kawan
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Kebahagiaanku adalah yang utama
Tidak
Aku tidak pernah meminta kepadaNya
Tapi langit,
Tolong, ciptakanlah pelangi bila hujan membasahi
Langit,
Maaf
Aku berlagak tinggi
Padahal tanpa kau sebutkan, engkaulah yang tinggi
Bumi,
Siapa-siapa saja yang aku bisikkan padamu
Apa-apa saja yang aku ungkapkan padamu
Aku yakin Langit mendengar
Bisakah kiranya nanti
Ayah
Ibu
Aku, dan
Adikku
Bahagia?
Karena dahulu ku tidak pernah meminta kepadaNya
Maka kini ku selalu meminta kepadaNya
Bahkan untuk sebatas senyum ayah, dan ibuku di setiap waktunya
Hanya saja, Langit,
Jangan jadi gelap diatas terang
Jangan lukis air mata meski hanya tetesan
Jangan biarkan mereka terus menjadi yang pura-pura bahagia
Jangan biarkan mereka jadi lantai
Hanya biarkan mereka jadi atap
Tinggi
Namun melindungi
Bumi,
Jadikan pijakan
Biar rendah
Namun mengiringi
Biar aku tetap meminta kepadaNya
Sampai kelak
Yang ku minta menjadi
Yang aku punya

Jakarta, 2 September 2016


Chintia Mega Nuraeni

Comments

Popular posts from this blog

Tidak Tergantung

Hai, Kamu yang aku pikir akan mengisi hati. Ah, malu. Aku sudah sesumbar ke yang Empunya kalau aku jadi perhatianmu. Aku, yang pipinya sudah memerah kala mereka menjadikan kita semoga. Aku, yang paling merasa dibutuhkanmu. Aku, yang paling merasa bisa menjerat. Aku, yang dengan angkuhnya merasa tak perlu akan kamu. Aku, yang ternyata jadi perasa sendirian. Hai, Kamu yang tahu masa lalu-ku. Ah, mari berpikir positif. Kamu, bukan tidak merasakan. Hanya saja, kamu tidak mau jadi seperti dia yang akhirnya meninggalkan, kan? Mari anggap saja demikian. Aku hanya berusaha menahan sakitnya lagi. Hai, Jika kamu membaca ini. Dalam diam. Dalam pikiranmu yang mungkin bergumam dalam hati, “Ah kasihan, ya.”. Aku sayang kamu. Lebih dari keangkuhanku selama ini. Hai, Kamu, yang selama ini ada di sampingku. Jadi temanku. Aku diam-diam menggantung bintang di antara aku dan kamu. Berharap suatu saat bintangnya jatuh. Hai, Kamu, yang sering ku dapati sedang menatapku sambil tersenyum. Aku ...

Sudah

Aku menemukannya dalam gelap Berbisik seolah teriak "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Dilihatnya aku dalam terang Aku lihat tangannya yang melambai kian kencang "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Suaranya pelan-pelan kencang "Aaaah! Kau tak lihat aku, ya?!" Aku membeku Sesak rasanya Aku hela nafas panjang "Apa yang salah?", lirih terdengar. Heranku penuh Sesaknya semakin jadi Aku lihat dia menangis "Aku lelah jadi si salah! Aku lelah menjadi buruk! Biar aku ajarkan pada mereka bagaimana buruk seharusnya!", teriaknya dengan jelas. Aku mematung Sesaknya menyeruak kian banyak Pelan-pelan aku membungkuk Aku ulurkan tangan untuk meraih tangannya Dapat! "Sudah, ya. Diam saja. Tanpa ajarmu, mereka sudah buruk sebagaimana adanya. Peranku juga tak cukup baik hanya karena di sisi yang bagimu menarik. Kau tahu? terang tak melulu tentang senang.", aku lepas.