Skip to main content

Kamu,mawarku.

Tuhan ciptakan aku dengan sempurna Sepasang tangan Ia berikan untukku agar dapat menggenggam erat jemari Sepasang kaki Ia berikan padaku untuk dapat melangkah dan mengikuti Sepasang mata indah yang Ia berikan untukku agar dapat memandangi indah Sebuah bibir dengan lekukkan tipis yang dapat terlukis manis Sebuah hati untuk dapat mencintai Semuanya, Tuhan berikan untukku Namun, mengertikah kamu bagaimana rasanya mencintai tanpa memiliki? Rasa nyaman, kadang membuatku lupa siapa aku. Tekad bulat kita untuk tetap bersama mengukir indahnya hidupku Karena kamu, aku jatuh cinta Karena cinta, aku terjatuh Kamu, seseorang yang pernah mengisi kehidupanku Mewarnai kanvas putih yang aku sediakan untukmu Mengisi lembar demi lembar yang kosong dengan senyummu Kamu, pernah menjadi hujan dan pelangiku Aku nikmati tetes demi tetes rintikannya Aku tetap menunggu matahari tiba untuk segera melihat warna indahnya Karena aku sadar, aku tidak sedang di Surga Walau demikian, karenamu aku rasa di Surga Ku lihat ada malaikat Tuhan yang Ia berikan kepadaku Ibu. Ayah. Adik-adikku. Sahabat terbaikku. Dan, kamu. Kamu indah, kamu mampu membuat segalanya indah Aku mengagumi segala kurang dan lebihmu Cacat dan sempurnamu Pahit dan manisnya sikapmu Segalanya padamu. Aku rasa, Tuhan terlalu baik padaku Karena sempat memberikan kamu untuk hadir di hidupku Aku hanya berpinta “Pertemukanlah kita kelak nanti.” Aku ingat janjimu untuk kembali. Mengharapkan waktu agar berputar lebih cepat Setidaknya secepat kincir berputar Aku selalu berdoa Selalu. Namun, aku sadar aku bukanlah hamba yang taat Jadi, harusnya aku tahu diri Kiranya doaku tidak akan dengan cepat dikabulkan Bahkan, aku harus sadar bahwa Tuhan akan memberikanku jawaban yang berbeda Mengambil hikmah bahwa Tuhan tidak akan memisahkanku dengan yang baik jika bukan untuk mempertemukanku dengan yang terbaik. Itu sulit. Aku belum ikhlas. Iya. Sampai dengan detik ini, aku belum juga mengikhlaskanmu. Pergi, mencari hidupmu, sendiri. Tanpa aku. Harusnya, aku ada. Ada bersama kamu. Menemanimu Mendampingimu Menyeka keringatmu Menciptakan indah senyummu Dan mampu menjadi alasanmu untuk semangat. Maafkan aku... Aku tidak bisa menemanimu sampai puncak. Aku hanya mampu menemanimu dari kaki, hingga punggung. Aku lemah.. Aku belum pantas untuk menjadi alasanmu untuk tersenyum Mungkin Ada saatnya kita sadar bahwa akulah pasangan rusukmu Atau Tidak. Aku harus tetap bertahan Tetap menggapai bintang hidupku Demi aku. Demi hidupku. Demi kamu. Demi kita. Aku harus tumbuh menjadi wanita hebat Aku harus bisa menjadi seperti ibu Hidup untuk diriku Hidup untuk orang-orang yang menyayangiku. Aku sadar Hidup ini terlalu singkat Ada kalanya aku sadar pula, bahwa terlalu banyak waktuku yang terbuang sia-sia Mencoba untuk setia, namun apa yang disangka? Setiaku telah disia-siakan. Yang aku rasa hanya lelah. Untuk apa aku menghabiskan waktuku dengan orang yang salah? Terimakasih, Tuhan. Terimakasih sudah mempertemukanku dengannya Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk bersamanya Terimakasih untuk 2 tahun terindahku dengannya Terimakasih sudah memberikanku waktu untukku memilikinya Terimakasih, Tuhan. Terimakasih telah memisahkan kami. Aku harus berdiri, dan bangkit. Sendiri. Harus aku buka lembaran baru di hidupku. Aku yakin akan janjiMu untuk kanvas baruku. Semoga, warnanya indah dan tak membosankan pada siapa saja yang melihatnya. Jika memang kami berjodoh, izinkan kami untuk bertemu disuatu hari nanti. Jika bukan. Tetaplah pertemukan kami. Aku hanya ingin tahu, apakah rasa itu semakin kuat karena waktu. Atau Kian pudar, hilang dan menjadi lupa. Setidaknya, aku telah mempersiapkan diriku Menjadi sosok wanita yang matang Siap hidup, siap mati. Aku lahir karenaMu Matipun juga harus karenaMu. Cukup berikan hidup yang indah, ya Tuhan.. Jika tidak kepadaku Berikan pada orang-orang yang aku sayang Orang-orang yang menyayangiku Orang-orang yang membenciku Janjikan aku akan kanvas hidupku Janjikan bahwa kanvasku akan indah Walau tanpa dia Tanpa seseorang yang menjadi salah satu kuasku. Janjikan aku bahwa masih ada cinta Masih ada yang terbaik dari yang terbaik Izinkan aku untuk dapat menciptakan segala keajaiban untuk mereka Izinkan aku untuk tetap bahagia Izinkan aku untuk dapat selalu menciptakan tawa di hati yang luka Aku. Iya. Aku. Aku bisa menciptakan pelangi Setelah hujan badai menerpa. Tuntunlah dia Jaga dia Untukku. Lindungi ia dari panasnya matahari Hangatkan dia dari dinginnya malam Jadilah perisai ketika tajamnya mulut manusia menusuknya Jadikan aku sebagai segala alasannya dalam hidup Aku hanya ingin menjadi sedikit berarti untuknya Tak apa, sedikit lebih baik untukku daripada ia tidak menganggapku ada. Tuhan.. Tidak kah Engkau mengizinkanku untuk mengatakan sesuatu padanya? Aku ingin ia tahu bahwa Sampai detik ini Aku masih menyayanginya Aku sadar bahwa cintanya seperti mawar Indah, namun melukai Harum, namun tak abadi. Aku mencintai segala kekurangannya Dengannya Aku merasakan dunia Aku merasa aman. Tidak tidak Aku harus ikhlas, kan? Iya. Mawar itu harus aku tanam di tempatnya Akan aku biarkan ia tumbuh dengan indahnya Akan aku lihat dia kelak Apakah telah berubah menjadi kebun mawar yang indah Atau.. Mati, karena aku salah meletakkannya Tapi satu yang aku harapkan Entah mawar itu tetap hidup atau akan mati Setidaknya aku tidak menjadi orang bodoh Orang bodoh yang telah menyesali segala keputusanku, kelak nanti. Aku bahagia, Tuhan telah berikan aku kesempatan untuk merawat mawarku bersamamu... Terimakasih, atas mawar-mawar indah disetiap harinya. - Chintia Mega Nuraeni

Comments

Popular posts from this blog

Tidak Tergantung

Hai, Kamu yang aku pikir akan mengisi hati. Ah, malu. Aku sudah sesumbar ke yang Empunya kalau aku jadi perhatianmu. Aku, yang pipinya sudah memerah kala mereka menjadikan kita semoga. Aku, yang paling merasa dibutuhkanmu. Aku, yang paling merasa bisa menjerat. Aku, yang dengan angkuhnya merasa tak perlu akan kamu. Aku, yang ternyata jadi perasa sendirian. Hai, Kamu yang tahu masa lalu-ku. Ah, mari berpikir positif. Kamu, bukan tidak merasakan. Hanya saja, kamu tidak mau jadi seperti dia yang akhirnya meninggalkan, kan? Mari anggap saja demikian. Aku hanya berusaha menahan sakitnya lagi. Hai, Jika kamu membaca ini. Dalam diam. Dalam pikiranmu yang mungkin bergumam dalam hati, “Ah kasihan, ya.”. Aku sayang kamu. Lebih dari keangkuhanku selama ini. Hai, Kamu, yang selama ini ada di sampingku. Jadi temanku. Aku diam-diam menggantung bintang di antara aku dan kamu. Berharap suatu saat bintangnya jatuh. Hai, Kamu, yang sering ku dapati sedang menatapku sambil tersenyum. Aku ...

Menjadi

Dahulu, Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari rahim siapa aku dilahirkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Siapa ayahku, Siapa ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari keluarga seperti apa aku dibesarkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keluarga kaya raya yang mampu mewujudkan segalanya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kiranya keluargaku adalah mereka yang punya tahta Aku tidak pernah meminta kepadaNya Bagaimana rupa ayah, dan ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kesempurnaan dunia yang tiada batas Aku tidak pernah meminta kepadaNya Apakah ayah, dan ibuku adalah seorang idola Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keadaan keluargaku harus sejahtera Aku tidak pernah meminta kepadaNya Lahir dalam keadaan kaya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Memiliki segala kemewahan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dengan siapa aku dewasa Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kehidupan sempurna yang ada aku disana Aku tidak pernah meminta kepadaNya Seorang ibu ya...

Sudah

Aku menemukannya dalam gelap Berbisik seolah teriak "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Dilihatnya aku dalam terang Aku lihat tangannya yang melambai kian kencang "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Suaranya pelan-pelan kencang "Aaaah! Kau tak lihat aku, ya?!" Aku membeku Sesak rasanya Aku hela nafas panjang "Apa yang salah?", lirih terdengar. Heranku penuh Sesaknya semakin jadi Aku lihat dia menangis "Aku lelah jadi si salah! Aku lelah menjadi buruk! Biar aku ajarkan pada mereka bagaimana buruk seharusnya!", teriaknya dengan jelas. Aku mematung Sesaknya menyeruak kian banyak Pelan-pelan aku membungkuk Aku ulurkan tangan untuk meraih tangannya Dapat! "Sudah, ya. Diam saja. Tanpa ajarmu, mereka sudah buruk sebagaimana adanya. Peranku juga tak cukup baik hanya karena di sisi yang bagimu menarik. Kau tahu? terang tak melulu tentang senang.", aku lepas.