Skip to main content

P e r e m p u a n k u

Pagi itu aku melangkah kaku.
Pernah berlari tapi tidak jua sampai.
Seolah kaki tidak tahu kemana harus melangkah dan hati tidak tahu kemana harus berlabuh.

Pagi itu matahari sembunyi.
Pernah bersinar tapi sering diselimuti.
Seolah lelah memberi harapan untuk jiwa yang kunjung menyerah.

Pagi itu suara senyap.
Pernah bising tapi sering sunyi.
Seolah paham jika hati tak terisi.

Pagi itu awan gelap.
Pernah terang tapi sering hilang.
Seolah tak perlu jadi teman untuk hari.

Pagi itu aku lihat dia.
Wanita lemah yang seolah kuat.
Dihujani sakit berpayung tuntutan.
Pagi itu aku lihat dia.
Perempuan tegar padahal rapuh.
Tampak kokoh padahal goyah.

Matahari malu harusnya.
Kalah bersinar dan kalah membara kuatnya.
Awan juga malu.
Selalu menyembunyikan langit padahal langit lebih membentang.
Dia menatap langit tanpa ragu kala awan akan datang dan menghujani baranya.

Dia melangkah kian hari.
Seolah lupa kalau hanya punya dua kaki.
Dia nampak merajut hangat.
Padahal malam akan tetap dingin.
Dia perempuan berparas malaikat berjiwa tulang rusuk.
Mengasah pedang padahal tak sanggup menebas.
Terlalu lembut hatinya.

Lautan setuju diarungi.
Dia menolak.
“Daratan saja belum sanggup aku jajaki”, katanya.
Padahal jutaan kali hatinya ditimpa palu bukan keadilan.

Banyak jiwa yang mengaku melindungi.
Terkhusus yang katanya tulang rusuk sejati.
Nyatanya dia tetap melangkah dengan kakinya sendiri.
Seolah yakin seberat apapun massa akan tetap kuat ia berdiri.

Dia nampak hebat.
Padahal di gelap malam ada hujan di atas pipi.
“aku bangga dengan anakku”, katanya.
Malah merendahkan diri dan meninggikan yang nyatanya rendah.

Bukan lagi ribuan kilometer.
Tapi ada beban ribuan ton di setiap kilometernya.
Tak nampak memang.
Namun ada yang terasa.

Comments

Popular posts from this blog

Tidak Tergantung

Hai, Kamu yang aku pikir akan mengisi hati. Ah, malu. Aku sudah sesumbar ke yang Empunya kalau aku jadi perhatianmu. Aku, yang pipinya sudah memerah kala mereka menjadikan kita semoga. Aku, yang paling merasa dibutuhkanmu. Aku, yang paling merasa bisa menjerat. Aku, yang dengan angkuhnya merasa tak perlu akan kamu. Aku, yang ternyata jadi perasa sendirian. Hai, Kamu yang tahu masa lalu-ku. Ah, mari berpikir positif. Kamu, bukan tidak merasakan. Hanya saja, kamu tidak mau jadi seperti dia yang akhirnya meninggalkan, kan? Mari anggap saja demikian. Aku hanya berusaha menahan sakitnya lagi. Hai, Jika kamu membaca ini. Dalam diam. Dalam pikiranmu yang mungkin bergumam dalam hati, “Ah kasihan, ya.”. Aku sayang kamu. Lebih dari keangkuhanku selama ini. Hai, Kamu, yang selama ini ada di sampingku. Jadi temanku. Aku diam-diam menggantung bintang di antara aku dan kamu. Berharap suatu saat bintangnya jatuh. Hai, Kamu, yang sering ku dapati sedang menatapku sambil tersenyum. Aku ...

Menjadi

Dahulu, Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari rahim siapa aku dilahirkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Siapa ayahku, Siapa ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari keluarga seperti apa aku dibesarkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keluarga kaya raya yang mampu mewujudkan segalanya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kiranya keluargaku adalah mereka yang punya tahta Aku tidak pernah meminta kepadaNya Bagaimana rupa ayah, dan ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kesempurnaan dunia yang tiada batas Aku tidak pernah meminta kepadaNya Apakah ayah, dan ibuku adalah seorang idola Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keadaan keluargaku harus sejahtera Aku tidak pernah meminta kepadaNya Lahir dalam keadaan kaya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Memiliki segala kemewahan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dengan siapa aku dewasa Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kehidupan sempurna yang ada aku disana Aku tidak pernah meminta kepadaNya Seorang ibu ya...

Sudah

Aku menemukannya dalam gelap Berbisik seolah teriak "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Dilihatnya aku dalam terang Aku lihat tangannya yang melambai kian kencang "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Suaranya pelan-pelan kencang "Aaaah! Kau tak lihat aku, ya?!" Aku membeku Sesak rasanya Aku hela nafas panjang "Apa yang salah?", lirih terdengar. Heranku penuh Sesaknya semakin jadi Aku lihat dia menangis "Aku lelah jadi si salah! Aku lelah menjadi buruk! Biar aku ajarkan pada mereka bagaimana buruk seharusnya!", teriaknya dengan jelas. Aku mematung Sesaknya menyeruak kian banyak Pelan-pelan aku membungkuk Aku ulurkan tangan untuk meraih tangannya Dapat! "Sudah, ya. Diam saja. Tanpa ajarmu, mereka sudah buruk sebagaimana adanya. Peranku juga tak cukup baik hanya karena di sisi yang bagimu menarik. Kau tahu? terang tak melulu tentang senang.", aku lepas.