Pagi itu aku melangkah kaku.
Pernah berlari tapi tidak jua sampai.
Seolah kaki tidak tahu kemana harus melangkah dan hati tidak tahu kemana harus berlabuh.
Pagi itu matahari sembunyi.
Pernah bersinar tapi sering diselimuti.
Seolah lelah memberi harapan untuk jiwa yang kunjung menyerah.
Pagi itu suara senyap.
Pernah bising tapi sering sunyi.
Seolah paham jika hati tak terisi.
Pagi itu awan gelap.
Pernah terang tapi sering hilang.
Seolah tak perlu jadi teman untuk hari.
Pagi itu aku lihat dia.
Wanita lemah yang seolah kuat.
Dihujani sakit berpayung tuntutan.
Pagi itu aku lihat dia.
Perempuan tegar padahal rapuh.
Tampak kokoh padahal goyah.
Matahari malu harusnya.
Kalah bersinar dan kalah membara kuatnya.
Awan juga malu.
Selalu menyembunyikan langit padahal langit lebih membentang.
Dia menatap langit tanpa ragu kala awan akan datang dan menghujani baranya.
Dia melangkah kian hari.
Seolah lupa kalau hanya punya dua kaki.
Dia nampak merajut hangat.
Padahal malam akan tetap dingin.
Dia perempuan berparas malaikat berjiwa tulang rusuk.
Mengasah pedang padahal tak sanggup menebas.
Terlalu lembut hatinya.
Lautan setuju diarungi.
Dia menolak.
“Daratan saja belum sanggup aku jajaki”, katanya.
Padahal jutaan kali hatinya ditimpa palu bukan keadilan.
Banyak jiwa yang mengaku melindungi.
Terkhusus yang katanya tulang rusuk sejati.
Nyatanya dia tetap melangkah dengan kakinya sendiri.
Seolah yakin seberat apapun massa akan tetap kuat ia berdiri.
Dia nampak hebat.
Padahal di gelap malam ada hujan di atas pipi.
“aku bangga dengan anakku”, katanya.
Malah merendahkan diri dan meninggikan yang nyatanya rendah.
Bukan lagi ribuan kilometer.
Tapi ada beban ribuan ton di setiap kilometernya.
Tak nampak memang.
Namun ada yang terasa.
Pernah berlari tapi tidak jua sampai.
Seolah kaki tidak tahu kemana harus melangkah dan hati tidak tahu kemana harus berlabuh.
Pagi itu matahari sembunyi.
Pernah bersinar tapi sering diselimuti.
Seolah lelah memberi harapan untuk jiwa yang kunjung menyerah.
Pagi itu suara senyap.
Pernah bising tapi sering sunyi.
Seolah paham jika hati tak terisi.
Pagi itu awan gelap.
Pernah terang tapi sering hilang.
Seolah tak perlu jadi teman untuk hari.
Pagi itu aku lihat dia.
Wanita lemah yang seolah kuat.
Dihujani sakit berpayung tuntutan.
Pagi itu aku lihat dia.
Perempuan tegar padahal rapuh.
Tampak kokoh padahal goyah.
Matahari malu harusnya.
Kalah bersinar dan kalah membara kuatnya.
Awan juga malu.
Selalu menyembunyikan langit padahal langit lebih membentang.
Dia menatap langit tanpa ragu kala awan akan datang dan menghujani baranya.
Dia melangkah kian hari.
Seolah lupa kalau hanya punya dua kaki.
Dia nampak merajut hangat.
Padahal malam akan tetap dingin.
Dia perempuan berparas malaikat berjiwa tulang rusuk.
Mengasah pedang padahal tak sanggup menebas.
Terlalu lembut hatinya.
Lautan setuju diarungi.
Dia menolak.
“Daratan saja belum sanggup aku jajaki”, katanya.
Padahal jutaan kali hatinya ditimpa palu bukan keadilan.
Banyak jiwa yang mengaku melindungi.
Terkhusus yang katanya tulang rusuk sejati.
Nyatanya dia tetap melangkah dengan kakinya sendiri.
Seolah yakin seberat apapun massa akan tetap kuat ia berdiri.
Dia nampak hebat.
Padahal di gelap malam ada hujan di atas pipi.
“aku bangga dengan anakku”, katanya.
Malah merendahkan diri dan meninggikan yang nyatanya rendah.
Bukan lagi ribuan kilometer.
Tapi ada beban ribuan ton di setiap kilometernya.
Tak nampak memang.
Namun ada yang terasa.
Comments
Post a Comment