Aku menemukannya dalam gelap Berbisik seolah teriak "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Dilihatnya aku dalam terang Aku lihat tangannya yang melambai kian kencang "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Suaranya pelan-pelan kencang "Aaaah! Kau tak lihat aku, ya?!" Aku membeku Sesak rasanya Aku hela nafas panjang "Apa yang salah?", lirih terdengar. Heranku penuh Sesaknya semakin jadi Aku lihat dia menangis "Aku lelah jadi si salah! Aku lelah menjadi buruk! Biar aku ajarkan pada mereka bagaimana buruk seharusnya!", teriaknya dengan jelas. Aku mematung Sesaknya menyeruak kian banyak Pelan-pelan aku membungkuk Aku ulurkan tangan untuk meraih tangannya Dapat! "Sudah, ya. Diam saja. Tanpa ajarmu, mereka sudah buruk sebagaimana adanya. Peranku juga tak cukup baik hanya karena di sisi yang bagimu menarik. Kau tahu? terang tak melulu tentang senang.", aku lepas.
Pagi itu aku melangkah kaku. Pernah berlari tapi tidak jua sampai. Seolah kaki tidak tahu kemana harus melangkah dan hati tidak tahu kemana harus berlabuh. Pagi itu matahari sembunyi. Pernah bersinar tapi sering diselimuti. Seolah lelah memberi harapan untuk jiwa yang kunjung menyerah. Pagi itu suara senyap. Pernah bising tapi sering sunyi. Seolah paham jika hati tak terisi. Pagi itu awan gelap. Pernah terang tapi sering hilang. Seolah tak perlu jadi teman untuk hari. Pagi itu aku lihat dia. Wanita lemah yang seolah kuat. Dihujani sakit berpayung tuntutan. Pagi itu aku lihat dia. Perempuan tegar padahal rapuh. Tampak kokoh padahal goyah. Matahari malu harusnya. Kalah bersinar dan kalah membara kuatnya. Awan juga malu. Selalu menyembunyikan langit padahal langit lebih membentang. Dia menatap langit tanpa ragu kala awan akan datang dan menghujani baranya. Dia melangkah kian hari. Seolah lupa kalau hanya punya dua kaki. Dia nampak merajut hangat. Padahal ma...