Skip to main content

Posts

Sudah

Aku menemukannya dalam gelap Berbisik seolah teriak "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Dilihatnya aku dalam terang Aku lihat tangannya yang melambai kian kencang "Aku lelah! Bisa bertukar peran?" Aku diam Suaranya pelan-pelan kencang "Aaaah! Kau tak lihat aku, ya?!" Aku membeku Sesak rasanya Aku hela nafas panjang "Apa yang salah?", lirih terdengar. Heranku penuh Sesaknya semakin jadi Aku lihat dia menangis "Aku lelah jadi si salah! Aku lelah menjadi buruk! Biar aku ajarkan pada mereka bagaimana buruk seharusnya!", teriaknya dengan jelas. Aku mematung Sesaknya menyeruak kian banyak Pelan-pelan aku membungkuk Aku ulurkan tangan untuk meraih tangannya Dapat! "Sudah, ya. Diam saja. Tanpa ajarmu, mereka sudah buruk sebagaimana adanya. Peranku juga tak cukup baik hanya karena di sisi yang bagimu menarik. Kau tahu? terang tak melulu tentang senang.", aku lepas.
Recent posts

P e r e m p u a n k u

Pagi itu aku melangkah kaku. Pernah berlari tapi tidak jua sampai. Seolah kaki tidak tahu kemana harus melangkah dan hati tidak tahu kemana harus berlabuh. Pagi itu matahari sembunyi. Pernah bersinar tapi sering diselimuti. Seolah lelah memberi harapan untuk jiwa yang kunjung menyerah. Pagi itu suara senyap. Pernah bising tapi sering sunyi. Seolah paham jika hati tak terisi. Pagi itu awan gelap. Pernah terang tapi sering hilang. Seolah tak perlu jadi teman untuk hari. Pagi itu aku lihat dia. Wanita lemah yang seolah kuat. Dihujani sakit berpayung tuntutan. Pagi itu aku lihat dia. Perempuan tegar padahal rapuh. Tampak kokoh padahal goyah. Matahari malu harusnya. Kalah bersinar dan kalah membara kuatnya. Awan juga malu. Selalu menyembunyikan langit padahal langit lebih membentang. Dia menatap langit tanpa ragu kala awan akan datang dan menghujani baranya. Dia melangkah kian hari. Seolah lupa kalau hanya punya dua kaki. Dia nampak merajut hangat. Padahal ma...

Tidak Tergantung

Hai, Kamu yang aku pikir akan mengisi hati. Ah, malu. Aku sudah sesumbar ke yang Empunya kalau aku jadi perhatianmu. Aku, yang pipinya sudah memerah kala mereka menjadikan kita semoga. Aku, yang paling merasa dibutuhkanmu. Aku, yang paling merasa bisa menjerat. Aku, yang dengan angkuhnya merasa tak perlu akan kamu. Aku, yang ternyata jadi perasa sendirian. Hai, Kamu yang tahu masa lalu-ku. Ah, mari berpikir positif. Kamu, bukan tidak merasakan. Hanya saja, kamu tidak mau jadi seperti dia yang akhirnya meninggalkan, kan? Mari anggap saja demikian. Aku hanya berusaha menahan sakitnya lagi. Hai, Jika kamu membaca ini. Dalam diam. Dalam pikiranmu yang mungkin bergumam dalam hati, “Ah kasihan, ya.”. Aku sayang kamu. Lebih dari keangkuhanku selama ini. Hai, Kamu, yang selama ini ada di sampingku. Jadi temanku. Aku diam-diam menggantung bintang di antara aku dan kamu. Berharap suatu saat bintangnya jatuh. Hai, Kamu, yang sering ku dapati sedang menatapku sambil tersenyum. Aku ...

Hulla-Hoop!

Assalamu'alaikum! Halo. Its been a long day, ya. Aku udah lama juga gak muncul di blog ini:) Hows ur day? Hope it good all the time, ya! Btw, ada yang tau sekarang aku gimana? Sekarang aku masih item, dekil, dan idup sudah lulus dari farmasi sejak 2015 lalu. Alhamdullillah juga udah merasakan rasanya bekerja, sudah merasakan juga diomelin pasien dan ngomelin pasien rasanya jadi asisten apoteker. Dan, alhamdulillah lagi sekarang aku memasuki masa-masaku sebagai seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. xo. Masih pakai uang orang tua kok, hanya saja aku juga berkontribusi biar sedikit ((pencitraan)). Maaf, aku nggak lagi melanjutkan dunia farmasiku. Alhamdulillah setelah terpending satu tahun, ibu dan ayahku merestui prodi pilihanku:) Nanti kamu tau sendiri kok hihi Kalian tau? Aku tidak pernah bermimpi bisa sampai ke titik ini. Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak pernah:) Aku takut membebani orangtuaku. Iya, aku tidak seberuntung mere...

Menjadi

Dahulu, Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari rahim siapa aku dilahirkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Siapa ayahku, Siapa ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dari keluarga seperti apa aku dibesarkan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keluarga kaya raya yang mampu mewujudkan segalanya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kiranya keluargaku adalah mereka yang punya tahta Aku tidak pernah meminta kepadaNya Bagaimana rupa ayah, dan ibuku Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kesempurnaan dunia yang tiada batas Aku tidak pernah meminta kepadaNya Apakah ayah, dan ibuku adalah seorang idola Aku tidak pernah meminta kepadaNya Keadaan keluargaku harus sejahtera Aku tidak pernah meminta kepadaNya Lahir dalam keadaan kaya Aku tidak pernah meminta kepadaNya Memiliki segala kemewahan Aku tidak pernah meminta kepadaNya Dengan siapa aku dewasa Aku tidak pernah meminta kepadaNya Kehidupan sempurna yang ada aku disana Aku tidak pernah meminta kepadaNya Seorang ibu ya...

Hujan - Pelangi

Tuhan ciptakan aku dengan sempurna Sepasang tangan Ia berikan untukku agar dapat menggenggam erat jemari Sepasang kaki Ia berikan padaku untuk dapat melangkah dan mengikuti Sepasang mata indah yang Ia berikan untukku agar dapat memandangi indah Sebuah bibir dengan lekukkan tipis yang dapat terlukis manis Sebuah hati untuk dapat mencintai Semuanya, Tuhan berikan untukku. Namun, mengertikah kamu bagaimana rasanya mencintai tanpa memiliki? Rasa nyaman, kadang membuatku lupa siapa aku. Tekad bulat kita untuk tetap bersama mengukir indahnya hidupku Karena kamu, aku jatuh cinta Karena cinta, aku terjatuh. Kamu, seseorang yang pernah mengisi kehidupanku Mewarnai kanvas putih yang aku sediakan untukmu Mengisi lembar demi lembar yang kosong dengan senyummu Kamu, pernah menjadi hujan dan pelangiku Aku nikmati tetes demi tetes rintikannya Aku tetap menunggu matahari tiba untuk segera melihat warna indahnya Karena aku sadar, aku tidak sedang di Surga Walau demikian, karenamu aku...

Bagai

Bagai ombak, aku hanyalah setitik pasir yang hanyut akan derasnya air. Ke hulu aku ke hulu, ke hilirpun aku ikut ke hilir. Mengerti akan tak adanya pendirianku untuk hidup. Namun, kembali lagi untuk sadar bahwa aku hanyalah setitik pasir yang memang ditakdirkan untuk sadar bahwa ombak akan selalu menentukan kemana aku akan pergi. Andai ombak mampu aku kendalikan, akan selalu aku arahkan ia ke arah dimana matahari terbenam, akan aku rasakan segala perhatian tertuju ke arahku meskipun aku tahu bahwa perhatian sebenarnya tertuju akan indahnya sang mentari. Sayang, mentari tidak benar-benar tenggelam di lautan luas, andai saja benar ingin rasanya aku rela untuk hanyut dan terbawa arus ke tengah samudera. Bagai malam, aku hanya langit gelap yang kosong tanpa keindahan. Ingin rasanya aku menjadi bulan, selalu dicari dikala kegelapan mulai mengetuk hari. Jangankan untuk menjadi bulan, berkilau kecil bagai bintang saja aku tak bisa. Sayang, bulan nampak asing tanpa bintang, dan bintang namp...